Jumat, 04 Januari 2013

Perilaku Organisasi

BAB XVIII
ORGANISASI

A.   Pendahuluan

Sebelum kita menelaah tentang permasalahan perilaku organisasi, diperlukan terlebih dahulu mengetahui apa yang dimaksud organisasi itu.

Pengertian dasar serta batasan-batasan (definisi) mengenai organisasi. Kata “organisasi” beasal dari kata “organon” dari bahasa latin yang berarti “ alat”. Banyak batasan-batasan (definisi) dari para ahli mengenai  organisasi satu sama lain terdapat perbedaan, tetapi tidak mengandung saling bertentangan bahkan saling melengkapi.

B.   Definisi Menurut Beberapa Pendapat Para Ahli

1.    Charles J. Barnard
Organization as a system of a Coopreratives ot two or more persons (organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih)

2.    James D. Mooney
Organization is the form of overy human association for the attainment of common purpose ( setiap organisasi atau bentuk kerjasama guna mencapai tujuan bersama).

3.    Paul Preston & Thomas Zinumerer
Organization is a collection of people arranged into groups warking together to achieve some common objectives ( organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok untuk meraih tujuan bersama)

C.   Pentingnya Organisasi
                
Menyadari tentang keterbatasan manusia tidak memungkinkan mencapai tujuan dengan kemampuan sendiri (individual). Dengan alasan ini manusia merintis kerjasama, membentuk kelompok kemudian membentuk organisasi, Manusia akan bisa hidup layak melalui organisasi.
Organisasi mulai dibentuk sejak manusia hidup dimuka bumi. Atas landasan motivasi tersebut,  proses pembentukan organisasi adalah sebagai berikut :
1.    Tersentuk secara spontan, tanpa aturan, misalnya bekerjasama orang-orang dalam menolong kecelakaan.

2.    Dibentuk secara seksama atas kerjasama secara formal, dilandasai dengan pertimbangan yang matang, misalnya organisasi profesi, organisasi bisnis dan lain sebagainya.

D.   Azas-Azas Pokok Organisasi
Supaya organisasi bisa mencapai tujuan yang efesien dan efektif ada beberapa azas pokok yang berfungsi sebagai pedoman/ langkah dalam organisasi, antara lain:
1.    Perumusan tujuan yang hendak dicapai
2.    Pembagian tugas
3.    Pelimpahan kekuasaan (wewenang)
4.    Rentang pengawasan
5.    Tingkat pengawasan
6.    Kesatuan perintah dan tanggung jawab

Perumusan tujuan sangat penting,  karena merupakan penentu arah organisasi, menetapkan  kebijakan organisasi, pembentukan struktur, tata kerja dan kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan, tujuan harus jelas dan mudah dipahami dan dapat diterima oleh semua pihak (dari pucuk pimpinan sampai pejabat terendah).
  1. Adapun ciri-ciri tujuan organisasi yang baik adalah sebagai berikut:
a.    Specific, ciri-ciri yang jelas, termasuk batas-batas tujuan yang hendak dicapai

b.    Realistic, tujuan harus memungkinkan bisa diraih, dan dapat diukur oleh kemampuan organisasi, dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT
S               Strength ( kekuatan)
W              Weakness (kelemahan)
O               Opportunity (peluang)
S               Sreath (kendala/ ancaman-ancaman)
Analisis SWOT adalah suatu proses dengan cara merinci lingkungan internal dan eksternal guna mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan organisasi ke dalam katagori:
Semuanya mendasari guna menentukan : strategi, sasaran, tujuan, sehingga organisasi memiliki kemampuan meraih perolehan dimasa depan yang lebih baik.
Keberhasilan dalam mencapai tujuan sangat tergantung kepada kekuatan dan dukungan peluang, serta pandai-pandai mengantisipasi kelemahan yang dimiliki dan ancaman yang dapat menimbulkan kegagalan.

c.    Moderate risk, resiko yang tidak terlalu berat (diupayakan sekecil mungkin).

d.    Challenging, sebagai tantangan

e.    Mesurable, tujuan harus bisa diukur, misalnya banyak produk, dan target-target lainnya.

f.     Time phosed, batas waktu yang jelas, schedule kerja yang cermat

  1. Pembagian Kerja
Pembagian kerja diterapkan mulai pimpinan tertinggi sampai pelaksana tingkat terendah. Tugas pekerjaan dikelompokan (kelompok produksi, penjualan, pembelian dan lainnya). Dengan pengelompokan akan dapat menjamin kelancaran pekerjaan. Pengelompokan juga bisa ditempuh didasarkan
a.    Kesamaan fungsi.
b.    Macam benda yang diproduksi untuk perusahaan.

  1. Pelimpahan (pendelegasian) kekuasaan
Pelimpahan kekuasaan pada bawahan guna menjalankan tugas yang dibebankan, pendelegasian wewenang mengingat  keterbatasan pada diri pimpinan.



Adanya pendelegasian kekuasaan  agar kelancaran jalannya organisasi tejamin. Menurut  Lewis A. Allen, hambatan-hambatan dalam pelimpahan wewenang (delegation of anthority) adalah :
a.    hambatan organisasi, misalnya sumber daya (kualitasnya tidak mendukung, keuangan tidak mendukung, dan lainnya)

b.    hambatan psikologis, kekawatiran pimpinan, ketidakpercayaan karena takut tersaingi.

  1. Rentang pengawasan (pengendalian) atau spon of control.
Spon of control, adalah jumlah bawahan langsung yang dapat dipimpin secara efektif oleh seorang. Mengenai berapa jumlah bawahan yang berbeda dipimpin dan diawasi secara efektif belum ada keseragaman. Ada 4 faktor yang mesti diperhatikan untuk menentukan luas rentang pengawasan, yaitu :

a.    Semakin jelas rencana organisasi, jelas pula batas-batas pertangungjawaban dalam organisasi, makin banyak beda jumlah orang yang dapat dikendalikan.

b.    Semakin banyak hubungan pekerjaan yang satu dengan yang lainnya dan diantara orang-orang yang bersangkutan, semakin kecil jumlah yang dikendalikan.

c.    Makin tangkas dan pandai seorang pemimpin, semakin banyak yang dapat dikendalikan

d.    Corak dan jenis pekerjaan semakin sederhana dan seragam corak pekerjaan, semakin banyak bawahan yang dapat dikendalikan.

Umumnya  pada level atas jumlah yang dapat dikendalikan berkisar 4 sampai 8, pada tingkat yang lebih rendah berkisar antara 8 sampai 15, mungkin bisa lebih. Faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah faktor jarak dan waktu, pengawasan dan pengendalian perlu disesuaikan.


  1. Tingkat-tingkat pengawasan
Organisasi yang telah dapat berkembang, strukturnya akan tersusun bertingkat, tingkat pengawasan hendaknya sedikit mungkin. Peter Drunker berpendapat bahwa suatu organisasi harus berisi tingkat pengawasan yang berjumlah sedikit mungkin dengan saluran perintah yang sependek-pendeknya.

  1. Kesatuan perintah dan tanggung jawab
Harus dapat dihindari jangan sampai seorang bawahan bertanggung jawab lebih dari seorang atasan. Hal ini guna mencegah adanya kesimpang siuran perintah, yang akan membingungkan seorang bawahan yang pada akhirnya efektifitas dan efesiensi tertanggu.


E.   Hakekat Organisasi

Gambaran mengenai hakekat organisasi menurut pendapat beberapa para ahli :

  1. Max Weber, seorang sosiolog terkenal membedakan :
a.    Organisasi perusahaan (coporate organization) hubungan sosial yang sifatnya tertutup, membatasi masuknya orang lain dari luar dengan peraturan tertentu, tidak semua orang bisa menjadi anggota organisasi,  Fungsi yang bersifat tetap : para pemimpin dan staf organisasi.

b.    Orgasisasi sosial (social organization)

Elemen-elemen yang ada dalam batasan organisasi menurut Max Weber adalah :

1)    Organisasi mengandung hubungan sosial antara individu (interaksi sosial)

2)    Memiliki batas-batas dan syarat-syarat keanggotaan organisasi

3)     Adanya hierarkhi/ tingkatan, otoritas dan pembagian kerja

4)    Interaksi dalam organisasi tidak bersifat kemauan tetapi bersifat asosiatif (adanya kontribusi)

5)    Berfokus pada pola intearktif hukum (yuridis) antar anggota yang bersifat mengikat

6)    Kesinambungan aktivitas (sustainability activity) yang dilaksanakan secara berkesinambungan.

  1. Charles J. Barnard,  
Mengemukakan berbagai persyaratan. Organisasi merupakan system kegiatan yang dikoordinasikan oleh dua orang atau lebih.

Batasan-batas ini mengandung unsur-unsur:
a.    Kegiatan dilaksanakan secara terkoordinasi.

b.    Organisasi menuntut adanya komunikasi dan itikad yang baik, bersama dalam mencapai tujuan.

c.    Peranan individu sangat penting sehingga perlu pengembangan, motivasi termasuk dalam pengambilan keputusan.

  1. Elgar H. Shein.
Mengemukakan pendapatnya, sebagai berikut: Organisasi adalah kegiatan koordinasi yang direncanakan mengenai kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian kerja, fungsi berdasarkan tingkatan otoritas (kewenangan dan tanggung jawab).

Dapat disimpulkan bahwa organisasi :
a.    Organisasi terus dalam mengembangkan dan pemeliharaan fungsi koordinasi,

b.    Terdapat tujuan bersama, pencapaiannya semaksimal mungkin,

c.    Adanya pembagian kerja yang jelas

d.    Menciptakan keterpaduan dalam semua kegiatan, koordinasi pada dasarnya bukan orangnya tetapi kegiatan atau pekerjaannya.

  1. Trewala & Nawport,
Mengemukakan  pendapatnya : Organisasi suatu struktur sosial, rancangan untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dua orang atau lebih melalui pembagian kerja dan tingkatan otoritas demi tercapainya tujuan.

Unsur yang mencakup dalam organisasi :
a.    Organisasi merupakan kerangka sosial, kerangka hubungan individu
b.    Dalam organisasi lahir fungsi koordinasi yang dirancang untuk mengatur semua kegiatan,
c.    Dalam organisasi diberlakukan pembagian kerja yang diatur sesuai dengan tingkat otoritas.
d.    seluruh aktifitas ditujukan untuk tercapainya tujuan bersama.


  1. Hendry Fayol,
Yang mendapat predikat bapak manajemen, seperti juga Fredereik Wineslow Taylor, menetapkan 14 prinsip organisasi yang paling utama adalah “pembagian kerja (devition of Work). Apabila pembagian kerja telah mulai dilaksanakan, agar tercipta keterpaduan dari semua kegiata, menuntut difungsikannya “ koordinasi “.

Dimuka telah disinggung bahwa koordinasi yang dikoordinir adalah kegiatan atau pekerjaannya, bukan semata-mata orangnya. Semua kegiatan terfokus kepada tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Hendry Fayol, dengan 14 prinsif organisasinya, yaitu:
a.    Division of Work (pembagian kerja)
b.    Authority & Responsibility (wewenang dan tanggung jawab)
c.    Dicipline (kedisiplinan)
d.    Unity of Command (kesatuan perintah)
e.    Unity of direction (kesatuan arahan atau penjurusan)
f.     Subardination of the individual’s to general interst (menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi)
g.    Remeuneration of personel (pengupahan pegawai)
h.    Ceutralization (pemusatan)
i.      Scalar Chain line ot authority (rantai berkala bagi otoritas)
j.      Order (tata tertib)
k.    Eguity (keadilan)
l.      Stability of tenure of personel (stabilitas masa kerja pegawai)
m.   Initiative (inisiatif, prakarsa)
n.    Esprit the carps (kesetiaan pada kelompok)


Ke-14 prinsip umum organisasi ini hingga sekarang, bisa benar-benar dilaksanakan penerapannya dan masih sesuai dengan pemikiran serta pelaksanaan manajemen modern.





Ada 5 komponen dasar suatu organisasi formal, yaitu :
1.    Struktur (perwujudan utama dari desain organisasi)
2.    Tugas (aktivitas-aktivitas yang harus dilaksanakan atas perintah atasan, atau yang telah ditentukan di dalam rencana tugasnya.
3.    Orang atau personil meliputi jumlah, kemampuan, keterampilan, karakter pribadi, gairah dan semangatnya.
4.    Kaputusan dan balas jasa agar semua personil mendapat imbalan yang adil dan benar sesuai aturan.
5.    Organisasi informal dan budaya organisasi.

























BAB XIX
LINGKUNGAN INTERNAL ORGANISASI

Lingkungan internal organisasi  (lingkungan Mikro Organisasi) Meliputi: Tujuan organisasi, Srtuktur organisasi, Pengambilan Keputusan, Motivasi, Komunikasi, Koordinasi, kepemimpinan serta budaya organisasi.

A.   Tujuan Organisasi
Tujuan organisasisering menggunakan istilah “ goals – aim- objectivitas-mession-purposes, diberi definisi : sebagai suatu hasil atau keadaan yang diharapkan dapat dicapai dengan menuntut suatu perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian dengan seksama.

  1. Aim, merupakan suatu keadaan  atau hasil yang ingin dicapai, melalui kegiatan yang lingkupnya lebih sempit daripada goals

  1. Objectivitas (sasaran) merupakan katagori yang bersifat spesifik tentang keadaan atau hasil yang ingin dicapai meliputi dimensi: kuantitas dan kualitas

  1. Missions, lebih menggambarkan tujuan organisasi non bisnis. Misi sebagai jawaban mengapa organisasi harus ada dan untuk apa. Misalnya: Misi organisasi untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, pengangguran, kejahatan, ketidakadilan, polusi dan lainnya. Pada umumnya misi organisasi mengandung unsur filosofi nilai, kepercayaan dan filosofi manajemen

  1. Purposes, merupakan situasi dimasa mendatang yang diharapkan dapat dicapai, yang lingkupnya lebih sempit dari misi

Ada 2 klasipikasi tujuan organisasi adalah:
a.    Tujuan organisasi yang dirumuskan secara terbuka

b.    Tujuan organisasi yang tidak terbuka kepada umum, hanya untuk lingkungan terbatas





Terdapat kekuatan yang dapat mempengaruhi tujuan organisasi, yaitu sebagai berikut:
  1. Pengaruh lingkungan yang menghambat suatu organisasi

  1. Tingkatan organisasi, berpengaruh terhadap keputusan  organisasi, Organisasi tingkat puncak rumusan tujuannya lebih luas daripada keputusan tingkat organisasi yang lebih bawah

  1. Tingkatn individu yang berperan dalam organisasi yang banyak menentukan rumusan tujuan organisasi



Pada manajemen by objective (organisasi bisnis ditata ke dalam 8 wilayah tujuan yaitu:
  1. Market standing (kekuatan pasar)
  2. Inovation (temuan-temuan baru)
  3. Productivity (kemampuan berproduksi)
  4. Physical & financial resource (sumber daya fisik dan keuangan/modal)
  5. Profitability (kemampuan mendapatkan laba)
  6. Manager performance & development (pengembangan dan kinerja manajer)
  7. Warker performance attitude (sikap kinerja karyawan)
  8. Public responsibility (pertanggungjawaban terhadap masyarakat)

B.   Struktur Organisasi
1.    Hakekat dan Landasan Organisasi
Beberapa pengertian tentang “struktur organisasi” : penempatan orang-orang pada posisi tertentu, serta peran, tugas dan hubungan satu sama lainnya melalui berbagai saluran:
a.    Adanya : The devision of labour, penempatan orang-orang dengan penugasannya (pekerjaannya)
b.    Adanya suatau hierarkhi, adanya pengaturan pada tiap tingkatan atau unit.
c.    Adanya alat pengendali semua kegiatan yang sangat kompleks




2.    Fungsi Struktur Organisasi
a.    Struktur organisasi untuk menghasilkan output organisasi dan pencapaian tujuan

b.    Mengatur personil mengenai penempatannya dalam organisasi, menanamkan kepatuhan semua anggota organisasi

c.    Penataan para pelaksana pengambil keputusan dan pelaksana kegiatannya.

3.    Bentuk-Bentuk Struktur Organisasi
Max Weber menggambarkan bahwa struktur organisasi merupakan bentuk “tipe biorkrasi”. Karena birokrasi memiliki hierarkhi dan batas-batas otoritas (wewenang), adanya pembagian kerja, syarat-syarat kerja, pengaturan jabatan dan perbedaan tingkatan-tingkatan imbalan. Birokrasi dirancang untuk menjaga prinsip “efesiensi” dan pertanggung jawaban. Birokrasi merupakan bentuk struktur organisasi yang paling baik. Disamping paparan dimuka ada juga bentuk struktur organisasi, yaitu:
a.    Bentuk struktur organisasi “ mekanik”, sebenarnya bentuk ini mirip dengan bentuk birokrasi

b.    Bentuk struktur organisasi “ organic “ suatu model bentuk yang sangat erat kaitannya dengan lingkungan, terutama lingkungan teknologi.

4.    Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, antara lain:
a.    Ukuran dan kompleksitas organisasi
Besar atau kecilnya suatu organisasi akan mempengaruhi besar terhadap struktur organisasi, yang besar akan menghadapi serba komplek. Ukuran organisasi tidak hanya jumlah personil yang berada di dalam organisasi, juga termasuk semua problematik yang berkaitan dengan personil siapa, yang berada dalam organisasi. Berbagai komponen sebagai penentu ukuran organisasi, yaitu :
1)    Kapasitas fisik organisasi (sumber daya atau sarana), misalnya:
a)    Kapasitas daya tampung rawat inap bagi pasiennya suatu rumah sakit (ruang, tempat tidur dan lainnya)
b)    Kapasitas daya tampung mahasiswa bagi suatu pendidikan tinggi.

2)    Aspek personil yang tersedia di dalam organisasi. Jumlah personil selayaknya  dikaitkan dengan prinsip efesiensi, kalau perlu dengan mengganti tenaga manusia dengan alat atau mesin (dunia industri)
3)    Aspek input dan output dikaitkan dengan efektivitas dan produktivitas

4)    Aspek dumber daya yang tersedia langsung dalam organisasi (sumber daya manusia maupun non insani)

b.    Peran Teknologi dalam organisasi
Hal ini akan lembih tampak pada perusahaan industri. Dalam penerapan teknologi dengan memperhitungkan efektivitas dan perolehan (prinsip kecocokan teknologi yang diterapkan dalam organisasi)

c.    Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap struktur organisasi adalah “ sosial organisasi, menyusul fisik geografi, iklim, infra struktur, sosial ekonomi, demografi (kependudukan), semuanya akan dijadikan pertimbangan dalam menyusun organisasi.

d.    Pilihan strategi
Pilihan-pilihan apa yang akan dilaksanakan, berpengaruh terhadap struktur organisasi. Misalnya: perusahaan mengembangkan kegiatan pemasaran akibat adanya produk baru yang akan di pasarkan, memperluas pangsa pasar di wilayah yang baru pula. Jelas ini akan mempengaruhi, menambah luasnya struktur organisasi.
Kebijaksanaan internal organisasi sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang berkembang di dalam organisasi. Pertimbangan ekonomis rasional yang telah melembaga, tersedianya sejumlah peralatan guna melayani pelaksanaan pilihan strategi guna mencapai target. Tujuan organisasi kesemuanya akan berpengaruh besar terhadap struktur organisasi. Bebagai tahapan dalam memilih pilihan strategi baru, semuanya guna mengejar tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.





BAB XX
PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

Sebelum lebih lanjut memahami perilaku organisasi terlebih dahulu mengetahui individu-individu sebagai pendukung utama suatu organisasi. Perilaku organisasi pada hakekatnya adalah hasil interaksi antar indivdu dalam organisasi.

Setiap individu memiliki serba kebedaan dan keunikannya. Begitu pula setiap organisasi akan memiliki kebedaaan walaupun bergerak dalam bidang yang sama. Hal ini disebabkan oleh perbedaan individu yang ada di dalamnya dan pula pengaruh lingkungannya. Akhirnya timbul pertanyaan:
1.    Apa yang disebut perilaku individu ?
2.    Apa yang mendasari perilaku individu ?
3.    Bagaimana proses pengambilan keputusan ?
4.    Bagimana nilai, sikap dan kepuasan, sipat-sipat manusia.

A.   Pengertian Perilaku Individu
Perilaku manusia adalah suatu fungsi akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Individu mewarnai tatanan dalam organisasi yang berupa: Kemampuan, kepercayaa, sipat-sipat pribadi, pengharapan, kebutuhan, pengalaman masa lalunya. Karateristik individu akan dibawa memasuki suatu lingkungan baru yaitu organisasi atau lainnya.

Sebaiknya organisasi yang merupakan lingkungan baru individu juga mempunyai  karakteristik antara lain:
1.    Keteraturan dalam hierarkhi.
2.    Tugas, fungsi dalam berbagai pekerjaan.
3.    Sistem pengajian dan system pengendalian.
4.    Sistem kesejahtraan dan lainnya.
Disini terjadi interaksi antara karakteristik individu, disatu pihak dengan karakteistik organisasi. Interaksi kedua karakteristik akan mewujudkan perilaku individu dalam organisasi.


B.   Dasar-Dasar Perilaku Individu
Kepribadian dan pengalaman hidupnya akan mendasari “ perilaku individu” diantaranya :
1.    Karakteristik Biologis
Yang merupakan karakter pribadi terdiri dari:
a.    Usia
b.    Jenis kelamin
c.    Status perkawinan
d.    Masa kerja

Ada anggapan bahwa makin tua usia makin merosot peroduktivitasnya. Terdapat perbedaan kinerja pria dan wanita, status perkawinan akan menambah rasa tanggungjawab. Masa kerja lebih menunjukan pengalaman yang dimiliki. Hal ini akan merupakan kecenderungan perlu pengamatan, apakah terdapat atau anggapan ini benar dan bisa dibuktikan.

2.    Kemampuan
Setiap individu memiliki kapasitas dalam menghadapi tugas pekerjaannya yang pada dasarnya kemampuan seseorang tersusun:
a.    Kemampuan intelektual
Disamping kemampuan intelektual  (IQ) perlu dikembangkan mengenai kematangan emosionalnya (Emotion Quotient-EQ)
b.    Kemapuan fisik
Stamina fisik, kecekatan tangan, kekuatan atau bakat-bakat akan berpengaruh besar terhadap kapabilitas fisik seseorang. Ada 9 kemampuan fisik dasar, yaitu :
1)    Kekuatan dinamis
2)    Kekuatan tubuh
3)    Kekuatan statis
4)    Kekuatan
5)    Keluwesan extent
6)    Keluasan dinamis
7)    Koordinasi tubuh
8)    Keseimbangan
9)    Stamina


3.    Kepribadian
Kepribadian seseorang merupakan total dalam bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain, atau himpunan karakteristik dan kecederungannya yang stabil serta menentukan sifat umum dan perbedaan dalam perilaku sesorang.

4.    Determinan  Kepribadian
a.    Keturunan, karekteristik sesorang dianggap sebagian besar  dipengaruhi oleh siapa kedua orang tuanya. Tetapi sebenarnya karakteristik seseorang tidak ditentukan oleh keturunannya.

b.    Lingkungan budaya dimana kita dibesarkan, norma, keluarga, sahabat, kelompok sosial memerankan cukup besar dalam pembentukan kepribadian.

c.    Situasi, kepribadian bisa berubah karena dalam situasi tertentu.

5.    Pembelajaran
Pembelajaran terjadi pada setiap waktu, dengan proses pembelajaran bisa merubah perilaku seseorang. Belajar mengakibatkan perubahan. Perubahan harus relative permanent, perubahan dalam proses berpikir atau sikap seseorang dan selanjutnya perilakunya.

C.   Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu
Persepsi adalah suatu proses uang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsikan kesan-kesan indera agar memberikan makna bagi lingkungannya . Persepsi penting bagi studi perilaku organisasi. Terdapat objek yang sama akan berbeda persepsi masing-masing individu.






Berbagai factor yang mempengaruhi persepsi individu.



 















D.   Teori Atribusi
Mengamati perilaku seseorang menggambarkan kesimpulan (membuat atribusi). Dalam mengamati seseorang akan mencoba menemukan apakah itu disebabkan oleh factor internal atau eksternal. Penentuan tersebut tergantung pada 3 faktor yaitu:
1.    Kekhususan
2.    Konsensus
3.    Kosistensi

Faktor internal berarti, perlaku yang berada dalam terkendali pribadi diri individu, sedangkan factor eksternal sebagai hasil dari sebab-sebab dari luar orang dan individu tersebut terpaksa berperilaku karena situasinya.

Jalan pintas dalam menilai perilaku orang lain, mempresepsi atai menafsirkan yang dilakukan orang lain merupakan suatu beban. Akibatnya sering ditempuh jalan pintas dalam menilai orang lain.

Persepsi dilakukan secara selektif, disadari kepentingan, latar belakang, pengalaman dan sikap. Hal ini karena individu tidak dapat  merekam semua yang diamati, hal ini karena:
1.    Efek halo
Menarik kesan karakteristik tunggal, misalnya: kecerdasan, akhli gaul, penampilannya.

2.    Efek kontras
Dibandingkan dengan individu yang lain yang baru dijumpai (lebih tinggi atau lebih rendah).

3.    Proyeksi
Membandingkan dirinya dengan orang lain.

4.    Bersteriotipe
Menilai atas dasar persepsi terhadap kelompok orang tersebut.
Persepsi jalan pintas sering terjadi kesalahan (ketidak tepatana).


E.   Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah seperangkat langkah yang diambil individu/ kelompok dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Masalah akam muncul apabila terjadi penyimpangan antara suatu kondisi saat ini dengan keadaan yang diinginkan.

Pengambilan keputusan menurut penafsiran, evaluasi terhadap informasi dari berbagai sumber-sumber, disaring, diproses dan ditafsirkan melalui persepsi-persepsi individu agar individu mendapat hasil maksimum dan pengambilam keputusan harus rasional, melalui langkah-langkah:
1.    Menetapkan masalah.
2.    Mengidentifikasi kriteria keputusan.
3.    Mengalokasikan kadar (bobot) pada criteria.
4.    Mengembangkan alternative.
5.    Memilih dan menetapkan alternatif yang terbaik.


Pengambilan keputusan dalam organisasi, ada 2 pendekatan, yaitu :
1.    Rasional-ekonomis, agar mendapatkan keputusan yang ideal.
2.    Model administrative, dengan memperhatikan keterbatasan rasional manusia.

Dasar-dasar pengambilam keputusan dalam organisasi:
  1. Rasionalitas
  2. Intuitif
  3. Identifikasi masalah
  4. Pengembanmgan alternative (kemungkinan)
  5. Menetapkan pilihan
  6. Perbedaan individual (cara berpikir), dan toleransi pribadi
  7. Hambatan organisasi
  8. Perbedaan budaya.

Model gaya pengambilan Keputusan
Tinggi


 




Rendah

Analisis


Konseptual

Derektif


Behavioral
                          Rasional                                                            Intuitif

Etika dalam pengambilan keputusan, pertimbangan memasukan unsur etika dalam pengambilan keputusan merupakan kriteria yang penting. Terdapat 3 kriteria dalam pengambilan keputusan yang etis. Yaitu:

1.    Kriteria Utilitarian (kegunaan), memberikan kegunaan yang besar untuk jumlah yang besar. Hal ini banyak diterapkan dalam dunia bisnis.
2.    Kriteria perlindungan hak. Criteria ini digunakan menghormati dan melindungi hak dari individu (hak kebebasan pribadi, keterbatasn berbicara).
3.    Kriteria keadilan, menerapkan semua aturan secara adil dan tidak berat sebelah (misalnya keputusan tentang besar kecilnya tarif upah sesuai dengan prestasi kerjanya.


Adapun faktor yang dapat mempengaruhi perilaku dalam pengambilan keputusan yang etis, adalah:
1.    Tahap perkembangan moral, apakah secara moral, benar atau tidaknya keputusan yang diambil.
2.    Lingkungan organisasi, apakah organisasi mendukung atau menorong perilaku etis atau sebalinya.
3.    Pengendalian atau budaya nasional. Pengertian etis untuk Indonesia, bukan etis ukuran global.

F.    Nilai, Sikap dan Kepuasan Kerja
1.    Nilai adalah kenyakinan yang meresap dalam prakarsa individu, nilai juga merupakan kenyakinan dasar bahwa suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas lebih disukai secara pribadi atau sosial daripada suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang berlawanan.
Niali penting untuk mempelajari perilaku organisasi, karena nilai meletakkan dasar untuk memahami sikap dan motivasi, serta nilai mempengaruhi persepsi kita.

Individu masuk dalam suatu organisasi dengan bekal gagasan yang dikonsepkan sebelumnya. Mengenai apa yang seharusnya da tidak seharusnya system nilai kita sebagian besar ditentukan secara genetik, selebihnya ditentukan oleh faktor-faktor seperti: budaya nasional, perintah orang tua/guru, sahabat dan pengaruh lingkungan lainnya.

2.    Sikap adalah suatu kesiapan untuk menanggapi suatu kerangka yang utuh untuk  menetapkan kenyakinan atau pendapat yang spesifik, serta sikap juga pernyataan evaluatif baik yang menguntungkan atau tidak menguntungkan mengenai objek orang atau peristiwa.
Sumber sikap sama seperti nilai, diperoleh dari orang tua, guru, anggota kelompok atau rekan kerja. Ada 3 sikap yang sangat mempengaruhi terhadap suatu pekerjaan, yaitu:
a.    Kepuasan kerja (job satisfaction)
b.    Keterlibatan kerja (job involvement)
c.    Komitmen pada organisasi
3.    Kepuasan Kerja, adalah penilian dari pekerja tentang seberapa jauh pekerjaannya, secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya. Kepuasan kerja merupakan sikap terhadap faktor-faktor pekerjaan, penyesuaian diri dan hubungan sosial individu di luar kerja.
Kepuasan kerja pada dasarnya adalah “security feeling (rasa aman) dan mempunyai segi-segi:
a.    Segi sosial ekonomi (gaji dan jaminan sosial)
b.    Segi sosial psikologi, kesempatan untuk maju, kesempatan memperoleh penghargaan,masalah pengawasan, pergaulan antar karyawan.


Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan kepuasan kerja seseorang yaitu: kedudukan, pangkat dan jabatan, masalah usia, jaminan sosial dan jaminan financial, mutu pengawasan.

G.   Memahami Sifat-Sifat Manusia
Memahami sifat manusia adalah dengan menganalisi prinsif-prinsif dasar yang merupakan salah satu bagian dari manusia. Prinsif-prinsif dasar tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Manusia berbeda perilakunya karena kemampuannya berbeda.
a.    Perbedaan individual.
Perilaku manusia adalah suatu fungsi dari interaksi antara perseorangan /individual dengan lingkungannya.
Untuk mengerti perbedaan masing-masing individu seorang manajer mesti:
1)    mengamati dan mengenal perbedaan.
2)    Mempelajari variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku individu.
3)    Menentukan hubungan diantara variabel-variabel




b.    Perbedaan kemampuan dan keterampilan.
Kemampuan (ability) merujuk suatu kapasitas  individu untuk mengerjakan berbagai tugas  dalam suatu pekerjaan dan seluruh kemampuan seorang individu. Pada hakekatnya tersusun 2 faktor  yaitu: kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Keterampilan adalah kompetensi yang berhubungan dengan beban tugas, seperti keterampilan mengoperasikan komputer, keterampilan berkomunikasi demi misi kelompok. Keterampilan sangat penting dikaitkan dengan persyaran kerja.


2.    Manusia memiliki kebutuhan yang berbeda,
3.    Orang berfikir tentang masa depan dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak.
4.    Seseorang memahami lingkungan dalam kaitan dengan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya.
5.    Manusia mempunyai reaksi-reaksi senang dan tidak senang.
6.    Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak faktor.

















BAB XXI
PERILAKU KELOMPOK

Berbeda karakteristik setiap individu berpotensi besar terhadap suatu kepentingan dan tujuan bersama (kelompok). Berbagai bentuk kelompok akan tampak kepentingan dan tujuan yang berlainan. Keberadaan kelompok sebenarnya bersifat informal, beda dengan organisasi yang lebih bersifat formal. Sejak individu masuk ke dalam kelompok, maka perilaku mereka akan menjadi perilaku kelompok untuk kebersamaan.

A.   Pengertian dan Klasifikasi Kelompok
Batasan kelompok : dua atau lebih individu berinteraksi satu sama lain sehingga perilaku, persepsi anggota dipengaruhi oleh perilaku atau persepsi anggota lainnya. Juga dapat diberi definisi sebagi dua individu atau lebih berinteraksi dan saling keterantungan guna mencapai sasaran tertentu.

Organisasi terdiri dari bagian-bagian, fungsi-fungsi dan integral dalam keseluruhan sistematik yang saling berhubungan. Perilaku kelompok adalah semua kegiatan yang dilaksanakan dua atau lebih individu yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dan saling ketergantungan untuk menghasilkan prestasi positif baik untuk jangka tertentu dan pertumbuhan diri.

Bila suatu kelompok terdapat dalam suatu organisasi maka anggotanya mesti
1.    Termotivasi untuk bergabung
2.    Menganggap kelompok sebagai kesatuan (unit) dari orang-orang berinteraksi.
3.    Berkonstribusi dalam berbagai proses kelompok.
4.    Mencapai kesepakatan dan ketidak sepakatan melalui berbagai interaksi.

B.   Klasifikasi Kelompok
Suatu kelompok dapat diklasifikasikan menjadi:
1.    Kelompok formal
Kelompok yang memiliki struktur organisasi, misalnya: Presiden dengan para menterinya, Ketua DPR dengan komisi-komisinya.


2.    Kelompok informal
Bisa terstruktur dan tidak terstruktur, muncul sebagai tanggapan terhadap kebutuhan akan kontrak sosial. Misalnya: kelompok arisan, kelompok paduan suara.
Sub Klasifikasi Kelompok
a.    Kelompok komando, ditentukan oleh bagan organisasi.
b.    Kelompok tugas ditetapkan secara organisasional guna menyelesaikan tugas.
c.    Kelompok kepentingan kerjasama untuk mencapai sasaran khusus.
d.    Kelompok persahabatan.

C.   Dasar-Dasar Perilaku Kelompok
Kemampuan anggota kelompok, ukuran kelompok. Kadar konflik yang terjadi, tekanan internal sebagai penyebab sukses tindakan suatu kelompok (penyesuaian diri pada norma kelompok).
  1. Kondisi eksternal pada kelompok.
a.    Strategi organisasi
b.    Struktur otoritas.
c.    Peraturan formal.
d.    Sumber daya organisasi.
e.    Proses seleksi personal.
f.     Evaluasi kinerja dan system ganjaran.
g.    Budaya organisasi.
  1. Sumber daya anggota.
a.    Kemampuan, adalah hubungan antara kemampuan intelektual dengan relevansi terhadap tugas kinerja kelompok.
b.    Karakteristik kepribadian.
  1. Sumber kelompok.
a.    Kepemimpinan formal (selalu ada dalam setiap kelompok kerja).
b.    Peran, yang ditampilkan oleh anggota.
c.    Norma, standar perilaku yang dapat diterima dengan baik.
d.    Status, posisi secara sosial yang diberikan kepada kelompok.
e.    Komposisi heterogen dan homogen.

  1. Proses kelompok.









Keefektifan kelompok potensial
 


Peraturan
Proses
 


Susut
proses
 

Keefektifan kelompok yang sebenarnya
 
 

                                        +                               -                              =


  1. Tugas-tugas kelompok.
a.    Pengambilan keputusan kelompok
Keuntungan pengambilan keputusan
1)    informasi lebih lengkap.
2)    Lebih banyak pendekatan.
3)    Meningkatkan dukungan.
4)    Legitimasi meningkat.
Kerugiannya.
1)    Menghabiskan waktu.
2)    Tekanan untuk prinsif kesesuaian.
3)    Dominasi oleh beberapa orang.
4)    Tanggungjawab ganda.

b.    Teknik pengambilan keputusan kelompok.
1)    interaksi.
2)    Sumbang saran.
3)    Teknik kelompok.
4)    Teknik Delphi dan pertemanan.


  1. Kinerja dan kepuasan
Suatu kelompok akan produktif bila anggotanya trampil dan berkarakter pribadi yang baik dan mendapat dukungan dari manajemen, tersedianya sumber daya yang memadai. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kinerja yaitu: persepsi, peran, norma, status, ukuran kelompok, demografi, tugas kelompok dan kekohesifan. Kepuasan anggota dipengaruhi  oleh hubungan persepsi, peran kinerja antar atasan dan bawahan.





  1. Teori psikologi.
The collaborative classroom, dalam organisasi mempunyai 2 unsur yaitu: Kerjasama dan saling ketergantungan yang positif. Adanya kepercayaan bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dan perasaan yang sama.

D.   Saling Pengertian Antara Kelompok
1.    Pengaruh konflik antar kelompok.
Kelompok terbentuk karena tindakan manajerial dan oleh upaya individu yang dibentuk oleh manajerial disebut kelompok formal, yang oleh  karyawan pembentukannya disebut kelompok informal. Kelompok akan bisa bekerjasama atau saling bersaing dengan kelompok lain yang dapat memicu timbulnya konflik. Konflik bisa bermanfaat bagi organisasi (persaingan sehat), tetapi dapat merupakan ancaman bagi organisasi.

2.    Hubungan antara kelompok.
Jaringan dan koalisi.
Jaringan biasanya bersifat kompleks antara pihak yang berkepentingan satu sama lain disamping dengan organisasi (misalnya lembaga konsumen kontak dengan organisasi, karyawannya bahkan dengan pemerintah. Mungkin juga terjadi koalisi beberapa pihak yang berkepentingan untuk mendukung atau menentang kebijaksanaan organisasi. Misalnya: koalisi untuk menentang penerapan teknologi baru yang akan mengorbankan pekerja.

3.    Peran ganda
Individu atau kelompok mungkin mempunyai hubungan ganda dengan sebuah organisasi (sebagai pemegang saham organisasi juga sebagai pembeli hasil produk).

4.    Peran khusus manajemen
Manajemen bertanggung jawab terhadap organisasi secara keseluruhan, dapat menciptakan keseimbangan terhadap berbagi pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda.



5.    Negosiasi.
Negosiasi banyak bermanfaat di dalam mengatasi konflik antar kelompok. Bila proses negosiasi dilakukan dengan efektif dapat menyebabkan kerjasama berkelanjutan.

E.   Teori-Teori Pembentukan Kelompok.
Akibat adanya interaksi sosial antar individu maka manusia cenderung untuk selalu membentuk kelompok-kelompok sosial sesuai dengan kebutuhan mereka. Adapun teori pembentukan kelompok adalah:
1.    Teori kedekatan.
Teori ini menjelaskan bahwa orang berhubungan dengan orang lain karena adanya kedekatan ruang dan wilayahnya.

2.    Teori interaksi.
Teori ini berdasarkan pada aktifitas-aktivitas, interaksi-interaksi dan perasaan (sentiment-sentimen) atau emosi. Ketiga elemen ini satu sama lain berhubungan secara langsung. Semakin banyak aktivitas, semakin banyak pula interaksi demikian pula sebaliknya makin banyak interaksi makin banyak pula aktifitas. Makin banyak aktifitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain semakin banyak sentuhan (perasaan) seseorang dipahami oleh orang lain, maka makin banyak kemungkinan ditularkannya aktifitas dan interaksi.

3.    Teori keseimbangan
Teori ini ( a balance theory of grouf formation), menyatakan bahwa seseorang tertarik pada orang lain didasarkan atas kesamaan sikap di dalam menanggapi suatu tujuan.

4.    Teori pertukaran
Teori ini ada kesamaan dengan teori motivasi dalam bekerja. Teori interaksi, keseimbangan juga berperan dalam teori ini. Sebagai contoh, karyawan suatu organisasi dapat berkelompok disebabkan  karena alasan ekonomi, keamanan maupun alasan-alasan sosial. Pembentukan kelompok memberikan kepuasan terhadap kebutuhan sosial yang mendasar dari orang-orang yang mengelompok tesebut.


F.    Bentuk-Bentuk Kelompok.
1.    Kelompok primer (primery grouf).
Kelompok primer bercirikan adanya keakraban, kerjasama dan sering bertatap muka (seringnya berkomunikasi).

2.    Kelompok formal dan informal.
Kelompok formal yang sengaja dibentuk untuk menghadapi tugas pekerjaan tertentu. Kelompok informal adalah kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, adaya daya tarik dalam kebutuhan individu. Studi klasik bidang organisasi industri menemukan 3 kelompok informal, yaitu:
a.    Klik mendatar, anggota terbatas dengan derajat dan bidang kerja yang sama.
b.    Klim menegak, berbeda tingkatan hierarhki
c.    Klik acak, berasal dari berbagai derajat, tingkat, bagian maupun lokasi.


3.    Kelompok terbuka dan tertutup.
Kelompok terbuka mempunyai sifat  tanggap akan adanya perubahan dan pembaharuan. Kelompk tertutup, kecil kemungkinan untuk menerima perubahan dan pembaharuan.

4.    Kelompok Referensi
Sesorang mengadakan referensi dari atasannya. Ada 2 fungsi seseorang untuk evaluasi yaitu: fungsi perbandingan sosial dan fungsi pengesyahan sosial.

G.   Dasar-Dasar Daya Tarik Antara Individu
Manusia sebagai individu memerlukan individu yang lain. Mengapa seseorang individu tertarik pada individu yang lain. Bukankah suatu kelompok adalah sejumlah orang-orang yang:
  1. Mengadakan interaksi satu sama lain.
  2. Secara psikologis orang sadar akan adanya orang lain selain dirinya.
  3. Menganggap bahwa dirinya sebagai satu kelompok.










Alasan tersebut diatas dapat dilekompokan sebagai berikut:
  1. Kesempatan untuk berinteraksi, saling ketergantungan merupakan inti dari pengelompokan.

  1. Status, orang tertarik pada orang lain karena kesamaan status, tetapi juga terdapat ada sementara orang yang berinteraksi dengan orang yang lebih tinggi statusnya.
  2. Kesamaan latar belakang, latar belakang yang sama, misalnya usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, ras, suku, kebangsaan, status sosial ekonomi. Merupakan daya tarik individu untuk membentuk kelompok.
  3. Kesamaan sikap, hal ini merupakan pengembangan dari kesamaan latar belakang. Orang yang mempunyai latar belakang sama, akan sama pula pengalamannya. Ini cenderung orang juga memunyai sikap yang sama.

  1. Pemuasan kebutuhan (the satis faction of need), hasrat untuk mendapatkan kepuasan bagi terpenuhinya kebutuhan dapat merupakan daya tarik (motivasi) yang kuat dalam pembentukan kelompok. Misalnya akan kebutuhan keamanan, sosial, penghargaan dan lainnya.
  2. Tujuan kelompok (grouf gools), Tujuan kelompok bila dipahami denga jelas dapat merupakan alasan orang tertarik kepada kelompok tersebut.
  3. Alasan ekonomi (economic reasons), tertarik pembentukan kelompok karena berpendapat akan mendapatkan keuntungan ekonomi daripada pekerjaan mereka. Bekerja dengan system kelompok (misalnya: kerja perakitan, produksi hasil kelompok menentukan kadar upah tiap anggota, yang biasanya lebih tinggi daripada upah kerja mandiri.

H.   Sifat dan Karakteristik Kelompok.
  1. Sifat Kelompok
Kelompok dengan sifatnya dapat dilihat melalui 4 pandangan, yaitu:
a.    Kelompok dari sisi persepsi.
Kelompok yang para anggotanya harus memperhatikan hubungan mereka, memandang keberadaan tiap-tiap anggota dan keberadaan kelompoknya. Dalam pertemuan tatap muka anggota akan mendapat kesan atau persepsi, saling tanya atau bereaksi satu sama lain.


b.    Kelompok dari sisi organisasi.
Kelompok merupakan suatu system terorganisasi yang terdiri dari dua atau lebih individu yang saling berhubungan. Dalam system ini ada beberapa fungsi dan mempunyai standar dari hubungan antar anggota, sekumpulan norma-norma yang mengatur hubungan. Ini semua berlaku di dalam organisasi.
c.    Kelompok dari sisi motivasi.
Seseorang memiliki motivasi bilamana dia belum mencapai tingkat kepuasan tertentu (ada 5 tingkatan kebutuhan menurut teori Maslow).

d.    Kelompok dari sisi interaksi.
Komunikasi langsung antara orang dengan orang, berarti tidak ada pihak sebagai perantara. Padangan ini menekankan pada interpersonal (interaksi antara individu).

  1. Karakteristik Kelompok
Dalam perkembangan kelompok, kelompok memulai menampakkan karakteristik tertentu. Karakteristik kelompok bersumber dari karakteristik individu sebagai angggota kelompok. Ada 7 (tujuh) karakter kelompok, yaitu:
a.    Struktur, pada setiap kelompok akan terdapat tipe struktur yang ada di dalamnya (factor dasar, misalnya: keahlian, kekuasaan, status) semua akan memiliki proses di dalam kelomok.

b.    Status hierarkhi, contoh pekerja yang lebih senior biasanya dianggap lebih berpengalaman, lebih cakap secara teknis sehingga ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi hierarkinya.

c.    Peran, konsep peran akan dianggap penting dalam memahami perilaku kelompok. Aktifitas dan tanggung jawab berhubungan dengan posisinya.

d.    Norma, merupakan standar yang disepakati individu dan perilaku kelompok, berkembang akibat adanya interaksi.

e.    Kepemimpinan, peran kepemimpinan dalam kelompok merupakan salah satu dari karakteristik kelompok (mengarahkan, mempengaruhi anggota dalam kelompok).

f.     Kohesifitas (kekompakan, kepaduan), solidaritas, kekompakan merupakan indicator penting mengenai seberapa besar pengaruh kelompok terhadap anggotanya.

g.    Konflik, akibat beda pandangan, pendapat, kepentingan individu, sebenarnya wajar apabila timbul suatu konflik. Bila kelompok dapat memahami proses konflik dan memanfaatkan konflik untuk hal yang kreatif dan inovatif (persaingan yang sehat) membuahkan suatu kemajuan.

I.      Alasan Pembentukan Kelompok.
Manusia tidak mungkin untuk hidup menyendiri, dapat dipastikan mengharapkan kehadiran komunikasi tertentu yang disebut kelompok. Mengapa manusia memerlukan kehadiran suatu kelompok.
  1. Untuk pemuas kebutuhan.
Alasan untuk pemuas kebutuhan dalam kehidupannya, memotivasi individu dalam pembentukan suatu kelompok, kemampuan dirinya tidak mungkin dapat memuaskan kebutuhannya.

  1. Kedekatan dan daya tarik.
Dalam interaksi dalam individu dibutuhkan suatu kedekatan (misalnya berkaitan dengan tugas pekerjaan, juga termasuk daya tarik tertentu berdasar pada persepsi, sikap, prestasi atau kesamaan motivasi, semuanya sebagai alasan pembentukan kelompok.

  1. Adanya tujuan kelompok
Semua manusia memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan akan lebih mudah dicapai apabila diaplikasikan dalam pembentukan kelompok dengan tujaun bersama.

  1. Adanya alasan ekonomi.
Kebutuhan ekonomi guna pemenuhan hidup manusia maupun kelompok. Motiv ekonomi mendorong adanya kerja kelompok.




BAB XXII
PERILAKU ORGANISASI

Sebelum membahas mengenai “perilaku organisasi” dimuka telah dipaparkan tentang seluk beluk yang berkaitan dengan organisasi. Guna lebih menyegarkan kembali ingatan kita tentang pengertian organisasi, adalah suatu wadah yang memberi peluang bagi anggota masyarakat agar dapat meraih tujuan yang diharapkan sebelumnya tidak mungkin dicapai oleh perseorangan (individu).

Organisasi merupakan unit (satuan) terkoordinasi yang terdiri minimal dua orang atau lebih, berfungsi guna mencapai serangkaian sasaran atau tujuan bersama. Perilaku semua manusia yang berbeda di dalam organisasi merupakan awal dari “perilaku organisasi”, selanjutnya organisasi akan melayani kebutuhan manusia bukan sebaliknya. Karena manusia membentuk organisasi justru justru membentuk maksud tersebut.

A.   Pengertian Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi merupakan studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu kelompok antar organisasi tertentu. Hal ini meliputi aspek yang ditimbulkan oleh pengaruh kelompok antar organisasi terhadap manusia, demikian pula aspek yang ditimbulkan dari pengaruh manusia terhadap kelompok organisasi.

Perilaku organisasi juga merupakan bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi antara manusia dalam organisasi, meliputi telaah secara sistematis tentang perilaku, struktur dan proses di dalam organisasi.

Perlu disadari organisasi diciptakan oleh manusia dalam meraih tujuan yang dicita-citakan. Lingkup ilmu mengenai perilaku organisasi mencakup:
  1. Psikologi
  2. Sosiologi
  3. Antropologi


Pengertian perilaku organisasi sebagai multi disiplin ilmu dapat digambarkan dalam beberapa hal, yaitu:
1.    Perilaku organisasi adalah cara berfikir dan berperilaku adalah aktivitas yang ada pada diri individu, kelompok dan tingkat organisasi.
2.    Perilaku organisasi sebagai multi disiplin ilmu yang mencakup: teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai ilmu.
3.    Di dalam berperilaku organisasi terdapat orientasi manusiawi, dimana terdapat perilaku, persepsi, perasaan dan kapasitas individu.
4.    Perilaku organisasi berorientasi pada kinerja, tujuan organisasi adalah meninkatkan produktivitas, artinya bagaimana perilaku organisasi mampu meraih tujuannya.
5.    Lingkungan ekternal sangat memberi pengaruh terhadap perilaku organisasi.
6.    Untuk mempelajari perilaku organisasi diperlukan metode ilmiah, karena bidang perilaku organisasi sangat tergantung pada disiplin ilmu yang merupakan cakupannya.

Mempelajari tentang perilaku organisasi di fokuskan pada 3 karakter, yaitu:
a.    Perilaku, adalah wujud tingkah dan laku individu
b.    Struktur, kerangka kelompok atau organisasi, kekuatan yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.
c.    Proses, berkaitan dengan interaksi yang terjadi antar anggota organisasi, meliputi: komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, kebijaksanaan dan wewenang atau kekuasaan.

B.   Pentingnya Peranan Manajer
Organisasi, lebih-lebih organisasi yang telah maju dan modern, upaya tercapainya tujuan, kehadiram manajer dengan perannya sangat diperlukan demi keberhasilan organisasi.

Seorang manajer dituntut untuk mampu mengarahkan, memotivasi, menyelesaikan atau mengatasi masalah-masalah yang dihadapi bawahan (staffnya), sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan sempurna.


Fungsi Manajer Menurut Hendry Fayol bahwa semua manajer menjalankan fungsi manajemen di dalam organisasinya, yaitu:
        1.    Fungsi merencanakan
        2.    Fungsi mengorganisasikan
        3.    Fungsi mengkoordinasikan, dan
        4.    Fungsi pengendalian

Tiga keterampilan  yang harus dimiliki seorang manajer, adalah :
a.    Keterampilan teknis (Technical Skill), yaitu penerapana pengetahuan khusus dalam organisasi.

b.    Keterampilan kemanusiaan (Human Skill), kemampuan menciptakan kerjasama, memahami dan memotivasi orang lain/ perseorangan maupun kelompok.

c.    Keterampilan konseptual (conceptual Skill), yaitu keterampilam mental guna menganalisis dan mendiagnosis situasi dan kondisi yang rumit, juga dalam pengambilan keputusan.

C.   Tantangan dan Peluang Perilaku Organisasi
Organisasi dalam mengoprasikan aktivitasnya tidak selalu berjalan lancar, terdapat berbagai kendala, hambatan bahkan kadang-kadang suatu ancaman,hal ini semua dapat dikatakan suatu tantangan.

Tantangan bagi organisasi merupakan permasalahan yang harus dihadapi dengan serius dan menuntut untuk segera diatasi, disamping itu harus dikelola dengan baik. Organisasi harus pandai-pandai memanfaatkan segala kemampuan yang dimiliki, pemikiran, tenaga dan strategi agar permasalahan dapat terselesaikan, sehingga tujuan organisasi menjadi suatu kenyataan.

Peluang (opportunity) mengandung arti suatu saat yang tepat untuk dilaksanakan berhubungan dengan sasaran yang hendak dicapai. Tantangan dan peluang itu muncul akibat adanya perubahan  karena proses dinamika dan kemajuan jaman. Tantangan-tantangan tersebut, yaitu:


  1. Globalisasi
Perubahan serba cepat dibidang ekonomi, politik, sosial budaya juga termasuk masalah-masalah keamanan akibat pesatnya kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan transfortasi. Bagaimana upaya menghadapi dan mengatasi tantangan dan juga dimanfaatkan sebagai peluang. Hal ini sangat tergantung kondisi dan kapasitas organisasi.

  1. Keanekaragaman Tingkatan Kinerja
Penyesuaian dalam menghadapi personil yang heterogen merupakan tantangan yang penting. Bagaimana usaha manajer dalam menghadapi tantangan ini agar menjadi peluang dalam meningkatkan pengembangan organisasi dengan melalui pendekatan komunikasi yang efektif.

  1. Memperbaiki kualitas dan produktifitas
Fokus peningkatan kualitas dan produktifitas baik di bidang barang dan jasa merupakan tantangan bagi organisasi. Dengan menerapkan pendekatan Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Manajement (TQM), dengan sasaran utama adalah kepuasan utama bagi pelanggan (customers) dan klient.

  1. Meningkatkan keterampilan menangani semua personil (anggota organisasi).

  1. Merubah, dari Manajemen Control ke uasaha pemberdayaan segenap karyawan yang ada.

  1. Dari kemantapan keluwesan (luwes)
Dalam menghadapi serba kemajuan, karyawan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Manajer dan karyawan bersama-sama menciptakan: kebersamaan dengan keluwesan, sikap menghargai dan menghormati antar sesama.

  1. Memperbaiki dan meningkatkan perilaku etis.
Perilaku etis adalah bentuk perilaku yang benar menurut kaidah atau norma yang diberlakukan di masyarakat.






Kesimpulan dari paparan diatas bahwa:
  1. Tantangan dan peluang akan selalu muncul bagi para perilaku organisasi.
  2. Tantangan harus dihadapi, diatasi dan dikelola dengan benar.
  3. Peluang harus diraih agar tujuan organisasi tidak terganggu.
  4. Tantangan bila dikelola dengan tepat akan menjadi peluang yang baik.
  5. Di dalam menghadapi tantangan dan meraih peluang diperlukan keterampilan khusus bagi para manajer global, yaitu:
a.    Keterampilan strategi global
b.    Ketermpilan mengelola beragam cultural
c.    Ketempilan membangun kehidupan kelompok.
d.    Keterampilan berorganisasi.
e.    Keterampilan berkomunikasi yang efektif
f.     Keterampilan mentransfer pengetahuan.





















BAB XXIII
PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN ORGANISASI

A.   Tujuan perubahan dan perkembangan organisasi.
Perubahan dan perkembangan organisasi pada dasarnya berkaitan dengan tujuan dan peristilahan yang dipergunakan. Tujuan kadang-kadang di tulis secara formal, namun kadang-kadang perubahan dan perkembangan hanya menampakkan diri dalam tindakan manajemen. Diantara tujuan-tujuan tersebut adalah:
  1. Meningkatkan kinerja (performance)
  2. Memperbaiki motivasi.
  3. Meningkatkan kerjasama
  4. Meperjelas komunikasi
  5. Mengurangi kemangkiran dan keluarnya karyawan (pegawai).
  6. Meminimalkan konflik.
  7. Mengurangi biaya (cost)

Belum ada kesepakatan tentang cara terbaik guna mengkaji perubahan dan perkembangan organisasi (Organization Development), yang penting menggunakan ilmu pengetahuan tentang perilaku untuk membantu organisasi dalam menyelesaikan terhadap semua perubahan (change).

Dengan menggunakan pengetahuan dan teknik dari ilmu perilaku pengembangan organisasi adalah: suatu proses yang berupaya untuk meningkatkan  efektifitas dengan cara mengintegrasikan kebutuhan individu untuk tumbuh dan berkembang dengan tujuan organisasi. Proses ini merupakan perubahan direncanakan yang mengakibatkan suatu system secara keseluruhan dalam kurun waktu serta terkait dengan misi organisasi.

Kesimpulan umum terkait dengan tujuan khusus perubahan dan pengembangan organisasi.
1.    Perubahan dan pengembangan harus terfokus pada pembentukan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan.
2.    Program yang dibuat harus lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan.
3.    Program yang dibuat menggunakan metode yang dirancang mengubah; pengetahuan, keahlian, sikap, proses, perilaku dan rancangan kerja, menuju pengontegrasian kepentingan dan tujuan individu dengan tujuan organisasi.

B.    Pendekatan Terhadap Perubahan Organisasi
Dalam pendekatan terhadap perubahan organisasi terdapat 2 pendekatan, yaitu:
  1. Pendekatan dengan penekanan terhadap apa yang akan diubah.
a.    Pendekatan structural, sosialisasi perubahan- bagan organisasi yang baru, metode budget, peraturan
b.    Pendekatan teknologis, arus kerja, tata letak alat, metode kerja dan standar kerja.
c.    Pendekatan tugas, perubahan, motivasi, rancangan kinerja.
d.    Pendekatan personil : sikap, inovasi, perilaku (program training), seleksi, perlengkapan baru.

Saling Ketergantungan antara ke-4 pendekatan


 






  1. Pendekatan yang menekankan pada proses perubahan.
Pengelompokan jenis perubahan (proses) ada 3 yaitu :
a.    Unilateral approach
Asumsi konstribusi bawahan sangat minim, atasanlah penentu posisi kekuatan dan kekuasaan
Pengumuman tentang perubahan yang akan dilaksanakan-mengganti beberapa posisi jabatan-tangga-tangga organisasi diperpendek.
b.    Shared power approach
Bila memiliki bawahan yang berkemampuan perlu adanya shared power


c.    Delegated power
Bawahan berpartisifasi aktif dalam program perubahan, mulai tahap perencanaan sampai pelaksanaan,
1)    adanya kelolpok diskusi khusus.
2)    Kelompok kecik yang sensitive terhadap adanya perubahan

C.   Faktor-Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan
Para manajer mesti memahami dampak yang bersifat umum dari setiap perubahan. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu :
  1. Plan
Proses perubahan perlu diprogramkan terlebih dahulu, baik yang terstruktur mapun yang tidak berstruktur. Berstruktur apabila jadwal waktu untuk setiap kegiatan terjadwal. Tidak berstruktur apabila pelaksanaan kegiatan terbuka lebar (misalnya kegiatan training.

  1. Power (unilateral to delegated)
Para manajer harus memperhatikan secara serius dan jujur terhadap kemampuhan bawahan tentang keahlian bawahan dalam distribusi kekuatan, kekuasaan (power).

  1. Relationship (inpersonal to personal)
Program training yang berupaya untuk mengidentifikasikan gaya kepemimpinan manajer sangat bersifat personal.

  1. Tempo (revolutionary to evolusionery)
Tempo adalah kecepatan dan kedalaman suatu proses perubahan di muka dari yang terkecil ke yang besar.

Tiap perubahan perlu pengkajian terlebih dahulu terhadap masalah mengenai: personal, lingkungan, hambatan, waktu, sumberdaya, dan tujuan yang hendak dicapai. Adapun tahapan perubahan, yaitu:
  1. Tahapan Unfreezing
Kepada semua personil diberikan rangsangan untuk sadar akan adanya perubahan (perlu memotivasi, mencari cara-cara baru guna mengatasi masalah).


  1. Tahapan freezing
Melibatkan para pelaksana (aplikasi, teknik atau program perubahan berstruktur, teknologi, orang-orang atau kombinasi antara factor-faktor tersebut.

  1. Tahahapan refreezing
Tindakan penguatan guna menanamkan kenyakinan bahwa perubahan, pola sikap, keahlian dan perilaku yang baru sudah bersifat permanen.

D.   Faktor-Faktor Penghambat Perkembangan Perubahan Organisasi
Penghambat tersebut dikelompokan menjadi 3 katagori, yaitu sebagai berikut:
1.    Hasrat untuk mempertahankan kemampuan, kesetabilan hidup.
2.    Pertimbangan atas lawan-lawan yang mungkin dihadapi untuk mengadakan perubahan
3.    Ketidak mampuan untuk mengadakan perubahan.

E.   Hambatan Sistem
Hambatan system merupakan hambatan internal, yang meliputi sebagai berikut:
1.    Keterbatasan sumberdaya (Sumber daya manusia dan sumber daya lainnya).
2.    Terperangkap oleh biaya yang harus dikeluarkan, untuk kekayaan  yang tidak cepat dapat diuangkan akibat investasi pada kekayaan tetap.
3.    Akumulasi hambatan-hambatan perilaku yang bersifat resmi, dapat berupa status, ketentuan hukum, hubungan dalam struktur. Semakin berkembangnya ketentuan resmi yang melembaga.
4.    Hambatan perilaku yang tidak resmi dan tidak direncanakan.
5.    Kesepakatan antara organisasi, misalnya adanya kontrak kerja, kesepakatan dengan pelanggan.

Hambatan-hambatan ini harus diantisipasi, mengingat program pembaharuan dan perubahan merupakan tuntutan organisasi yang perlu dilaksanakan.



F.    Faktor-Faktor Pendorong
Terlepas pimpinan organisasi berkehendak atau tidak untuk mengadakan perubahan, Organisasi tersebut berubah juga karena sejumlah kekuatan akan mendorong untuk merubah, baik secara terpaksa mapun secara sukarela.
  1. Perubahan secara terpaksa
Akibat pergantian personil dari yang tua kepada yang muda, atau akibat adanya desakan dari masyarakat, juga bisa pemaksaan dari pelaksanaan hukum yang berlaku.

  1. Perubahan secara sukarela.
Hal ini terjadi karena beberapa hal:
a.    Adanya motivasi untuk berubah.
b.    Penataan penghambat perubahan secara sistematik antara lain:
1)    Impor sumber daya.
2)    Pemusatan sumber-sumber daya pada sektor penting.
3)    Mengindari biaya yang lambat menghasilkan.
4)    Melaksanakan reorganisasi, mengurangi menghambatan administratif.

c.    Mengatasi pembuatan mental dengan cara-cara:
1)    Merekrut orang-orang yang tidak bermental ortodok (mempertahankan nilai-nilai lama)
2)    Melaksanakan training dan retraining, bisa juga penarikan personil dari luar.
3)    Menyebarluaskan gagasan-gagasan yang menonjol, kerjasama dengan kaum intelektual dan lembaga pendidikan tinggi.

d.    Mengurangi insentif bagi para penentang perubahan (reducing Incentivitas to appose change)








BAB XXIV
BUDAYA ORGANISASI


A.   Pengertian Budaya
Buadaya diartikan oleh Richard A. Sheweden sebagai suatu “gagasan-gagasan yang bersifat khusus dari suatu masyarakat berkenaan dengan hal-hal yang dianggap benar, baik, indah dan bermanfaat yang harus disosialisasikan dan dibiasakan turun temurun.

B.   Budaya Organisasi
Menurut Stephen P. Robbin dapat didefinisikan sebagai berikut:
  1. Inisiatif perorangan tampil dalam bentuk peluang, tanggung jawab, kebebasan dan ketidak terikatan yang dimiliki seseorang.

  1. Toleransi atas resiko, tampil dalam bentuk peluang, dorongan terhadap personil untuk bersikap: agresif, inovatif yang berarti mengambil resiko.

  1. Pengarahan, tingkat kemampuan organisasi dalam menciptakan sasaran dan kinerja.

  1. Integrasi, unit-unit dalam organisasi di dorong untuk bekerja secara koordinatif.

  1. Dukungan manajemen (dari para manajer) terhadap bawahan agar efektif dalam hal komunikasi, bimbingan dan dukungan.

  1. Pengendalian (control) sejumlah aturan untuk pengawasan guna mengendalikan perilaku karyawan.

  1. Bukti diri (indenty), adalah tanda anggota suatu organisasi secara keseluruhan.

  1. Sistem imbalan, adalah tingkatan alokasi imbalan (gaji, promosi).

  1. Tolerasi konflik, tingkat keterbukaan bagi pegawai untuk menghembuskan konflik dan kritik.

  1. Pola komunikasi, yaitu tingkat jaringan komunikasi terhadap hierarhki yang ada.

Mathen Davis memandang bahwa, “ budaya organisasi sebagai kepribadian organisasi (organizational personality) sebagai hasil seluruh gambaran tentang organisasi yang meliputi : orang-orangnya, sasaran, teknologi, ukuran, usia, persatuan pekerja, kebijakan  dan kesuksesan.

Bahwa budaya organisasi terus dikembangkan, yang pada dasarnya bersumber dari pimpinan organisasi dengan dukungan semua personil dalam organisasi. Perubahan-perubahan dalam organisasi akan sangat berpengaruh pada perubahan budaya organisasi yang melibatkan orang-orang di dalam organisasi tersebut.

Menurut Greenberg & Baron : berpendapat bahwa ada 7 (tujuh) unsur budaya organisasi, yaitu:
  1. Inovasi (innovation)
  2. Stabilitas (stability)
  3. Orientasi terhadap orang (orientation toward people).
  4. Oreintasi terhadap hasil (result arientation)
  5. Lancar (easy goingness).
  6. Perhatian yang mendetail, dan
  7. Orintasi kepada kerjasama

C.   Konflik Dalam Organisasi
  1. Sebab konflik dan penanggulangannya.
MC. Farland berpendapat: konflik merupakan gambaran perilaku seseorang atau suatu kelompok orang untuk menguasai kelompok lain.

  1. Suasana konflik
Suasana konflik dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
a.    Zero sum game. Bila suasana kelompok memenangkan kekuatan (power) berarti yang lain kehilangan kekuasaan.
b.    Non Zero sum game, yaitu setiap kelompok memperoleh hal-hal yang dikehendaki secara bersama-sama (win-win principle)

  1. Sejumlah faktor yang menyebabkan konflik.
a.    Ketidak tepatan komunikasi.
b.    Perbedaan minat antar anggota.
c.    Kurangnya komunikasi, menyebabkan terbentuknya beda persepsi.
  1. Bentuk-bentuk alasan terjadinya konflik
Berbagai konflik bisa terjadi dalam organisasi maupun dalam kehidupan dimasyarakat. Konflik bisa terjadi antar pekerja dan majikan, anggota staf dan anggota lini, atau antar anggota staf. Konflik interpersonal bisa terjadi konflik karena kondisi organisasi itu sendiri.

Basis atau landasan terjadinya konflik dikemukankan oleh Daniel Katz, ada 3 (tiga) macam, yaitu:
a.    Konflik fungsional, antar sub-sistem di dalam organisasi, karena masing-masing mengembangkan tata nilai dan norma.
b.    Konflik saling ketergantungan, pelaksanaan tugas hanya dapat dilaksanakan setelah tugas yang lain dapat diselesaikan.
c.    Konflik hirarkhis yang bersumber dari minat kelompok menurut tingkatan- tingkatannya.

Sthepen P. Robbin, berpendapat bahwa alasan terjadinya konflik adalah sebagai berikut:
a.    Komunikasi kurang sempurna sehingga salah mengerti.
b.    karena kondisi struktural, besarnya ukuran organisasi, gaya supervise, pemerataan peran yang kurang adil, system imbalan yang kurang tepat.
c.    Variabel perilaku personal.
d.    Keanekaragaman posisi antar kelompok.

Komponen proses terjadinya konflik di dalam organisasi menurut Kenneth & Boulding: proses terjadinya konflik di dalam organisasi, yaitu:
a.    Pihak yang terlibat ada 2 pihak, bisa individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, kelompok dengan organisasi, organisasi dengan masyarakat.
b.    Bidang masalah konflik, yaitu keseluruhan perangkat, system sosial yang memungkinkan konflik atau kekuatan antar pihak dalam bidang tertentu.
c.    Dinamika situasi konflik, hal ini berkaitan dengan sejauh mana perkembangan upaya saling menyesuaikan diri antara pihak-pihak yang terkait.
d.    Manajemen pengendalian dan pemecahan masalah konflik sejak dini. (salah satu pihak mengalah, atau melalui pihak ke-3, atau mengatasi penyebabnya.

Konflik juga sering terjadi karena ketidak serasian antar pandangan tentang hak-hak, imbalan atau power, keserasian dibidang tujuan, minat selera, sudut pandang dan lain-lain.

  1. Tipe-tipe konflik
Konflik bisa terjadi antar individu dan antar kelompok karena perbedaan nilai, sikap dan minat pribadi. Ada 4 jenis konflik, yaitu:
a.    Konflik pribadi (personal conflict), penyebabnya masalah harga diri dan emosi.
b.    Konflik bukan pribadi ( de person alized conflict) terjadi akibat ketidak cocokan dengan lingkungan.
c.    Inner conflict, akibat nilai-nilai pribadi dalam kaitan dengan kesulitan dalam pengambilan keputusan.
d.    Inter gruof conflict terjadi karena perbedaan tujuan antar departemen atau devisi di dalam organisasi.

  1. Penyebab terjadinya konflik
Penyebab terjadinya konflik antara lain:
a.    Perbedaan tujuan, kebutuhan, nilai.
b.    Persaingan dan ambisi pribadi dalam hal promosi, upah.
c.    Pelaksanaan kerja yang buruk (perja yang lain menjadi kesal).
d.    Overlapping dalam tanggung jawab atas pekerjaan.
e.    Kegagalan manajemen, waktu dan pelaksanaan tugas.
f.     Stres, kecemasan atas kondisi financial, keluarga, benturan, perselisihan.
g.    Ketidak setujuan terhadap imbalan, status atau peranan.
h.    Prasangka atas kesukuan, ras, agama, usia.
i.      Salah urus tentang pekerjaan.
j.      Ketidak mampuan delegasi dan wewenang.
k.    Perselisihan antar nilai pribadi.
l.      Kecerobohan dalam pelaksanaan kerja.




Guna mempelajari dan medalami masalah konflik perlu kita ketahui ada 3 (tiga) macam pandangan etntang konflik, yaitu:
a.    Pandangan tradisional
Konflik sesuatu yang tidak diinginkan dan akan membahayakan organisasi, maka harus diatasi (dipecahkan) agar semua fungsi organisasi dapat berjalan normal.
Keluarga, lembaga pendidikan, keagamaan. Anti konflik menciptakan kerukunan.

b.    Padangan behavioral (netral)
Konflik merupakan benar-benar ciri khas perilaku manusia (buel in element), akibat latar belakang yang berbeda, baik individu mapun kelompok. Akhirnya tampak dalam perbedaan tujuan, sikap kompetisi, persaingan dan sebagainya. Konflik mempunyai nilai sosial.

c.    Pandangan modern.
Memandang konflik sesuatu yang positif dan aktif.
1)    Konflik penting dalam kehidupan
2)    Merangsang lahirnya oposisi selanjutnya mengkritisi.
3)    Perlu mengembangkan manajemen konflik.
4)    Pemimpin dan manajer bertanggung jawab terhadap manajemen konflik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar